Monday, May 22, 2017

Warisan Afi Nihaya Faradisa

Foto : facebook Afi
Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.
Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.
Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.”
-Afi Nihaya Faradisa

Siapa itu Afi Nihaya Faradisa? Kok status FB remaja SMA saja bisa jadi viral di media sosial? Dan kenapa sampai ada yang bersusah payah melaporkan akunnya tersebut sehingga facebooknya di blokir?

Mungkin itu yang terlintas di pikiran kita begitu mendengar dan melihat namanya wara-wiri di halaman facebook. Ya, Afi Nihaya Faradisa adalah nama pena dari gadis kelahiran Banyuwangi, 23 Juli 1998. Nama aslinya adalah Asa Firda Inayah (AFI). Akhir-akhir ini Afi banyak memposting pemikiran-pemikirannya tentang keadaan di Indonesia. 

Beberapa hari yang lalu accountnya sempat di tutup oleh Facebook dan banyak menuai kritik dari netizen. Sebenarnya apa saja yang ditulis Afi hingga bisa menarik ratusan ribu follower dan di share ribuan kali?

Tulisan pertamanya mengajak pembaca untuk melihat sebuah permasalahan dari sisi lain. Dengan judul yang bagi saya sedikit kekanak-kanakan, “Mari Jadi Dewa untuk Sehari saja” dibaca sampai 4,9 rb kali dan di share sampai 5,276 kali. Hebat bukan? Isinya mengajak para pembaca untuk mencoba menjadi dewa, naik ke atas dan melihat kekacauan di tanah air kita dari atas sana. Dari sana kita akan melihat kalau kekacauan yang terjadi di Indonesia juga terjadi di belahan dunia lain.

Di Amerika, Negara yang kaya raya juga masih ada rakyatnya yang miskin. Sebagaimana Amerika, di Myanmar juga masih banyak orang yang toleran dan tidak rasis. Di Palestina juga ada umat kristiani yang ikut tertindas, di Arab juga ada orang yang atheis, ataupun orang yang berkecukupan di Somalia. Dan itu semua sudah terjadi sejak dulu, dan berulang kali. 
Setujukah Anda dengan hal ini?

Tulisan kedua mengenai pengalamannya membongkar hoax. Afi adalah salah seorang admin di group pembongkar hoax terbesar di Indonesia. Dari situ dia menemukan bahwa para penyebar berita viral bukanlah orang yang netral. Semua orang tahu kalau hoax tetaplah hoax. Sebuah berita bohong walaupun dikemas dengan sangat rapih dan diberi parfum sekalipun tetaplah bohong. Membongkar hoax dari oknum agama bukan berarti anti agama tersebut. Begitupun sebaliknya, membongkar hoax dari pro-toleransi bukan berarti 
intoleran.

Semua isu yang berkembang bukan membesar begitu saja, tetapi sudah pasti ada yang memelintir dan menambah-nambahi. Tidak percaya? Coba saja lihat melalui gambar yang lebih besar. Skeptislah. Di jaman ini semua informasi bisa keluar dari mana saja, akun, blog, dan situs abal-abal.

Dengan ikut-ikutan menyebarkan isu hoax, mungkin saja Anda terbebas dari jerat hukum UU ITE. Tapi bisakah lolos dari jerat hokum Tuhan?” Afi Nihaya.

Postingan inipun di share hingga lima ribuan kali lebih. Sementara likenya mencapai 13 ribu.

Masih ada postingan lainnya tentang mengendalikan diri di Facebook. Sebenarnya postingan ini untuk mengingatkan pada diri sendiri. Facebook bukanlah tempat debat kusir. Facebook yang semula diciptakan untuk hiburan justru menjadi penyebab umur pendek bagi beberapa orang. Kuncinya hanya satu, kendalikan diri. 

"Tuhan sudah menciptakan manusia dengan beraneka ragam. Lalu, kenapa kita sibuk memperdebatkan siapa dan apa yang benar?"
 –Wilson Kanadi

Adalagi status Afi yang dibagikan hingga hampir mencapai 33 ribu kali dan di like oleh 51 rb orang. Saat itu semua masalah dijadikan perdebatan di Facebook. Afi mengatakan bahwa Tuhan tidak mengatakan hanya dekat dengan pembuluh nadi agama x dan suku y. 

Tapi Tuhan dekat dengan semua pembuluh nadi. Disini saya sendiri sependapat. Tuhan membagikan udara, sinar matahari dan hujan tanpa memandang suku dan agama. Tuhan juga menciptakan kaum minoritas dan mayoritas sama sempurnanya.
Foto : Facebook Afi

Sekali lagi Afi mengemukakan pendapatnya tentang kaum pembenci pemerintah. Afi menggunakan perumpamaan mengenai rumah. “Bagaimana rasanya kalau Anda membenci keluarga tapi hidup serumah dengan mereka? Tidak ada rasa hormat pada Ayah dan sering bertengkar dengan Ibu?” 

Begitu Afi mengawali statusnya tentang para pembenci pemerintahan, yang hidup di Indonesia, bergantung dan mencari makan pada tanahnya tapi membenci pemerintahannya.

Selalu ada alasan untuk tidak puas pada pemerintah siapapun yang berkuasa. Semua manusia tidak ada yang sempurna.

Negara kita pernah dipimpin oleh ilmuwan, tapi bukan berarti rakyatnya langsung intelek semua, Dipimpin oleh seorang ulama, tapi rakyatnya tidak langsung religius dan memiliki karakter mulia. Saya sependapat dengan ini. 

Yang menentukan suatu perubahan bukanlah pemerintahnya saja, tapi kita. Masyarakat terobsesi pada pemerintahan, mengharapkan perubahan dari pemerintah tapi tetap mempertahankan karakter lama. Lalu, bagaimana bisa hal ini disebut perubahan?

Marilah kita singkirkan sejenak segala perbedaan. Pelangi tidak akan indah bila hanya memiliki satu warna saja. 

Tidak ada seorangpun anak yang bisa memilih akan lahir di mana, dan memilih siapa orang tuanya. Saya hanya bisa menatap wajah oriental anak-anak dan berharap yang terbaik bagi mereka. 

Semoga bangsa Indonesia tetap bersatu, dan tidak mendeskriminasikan mereka. Semoga masih banyak warga Indonesia yang memandang perbedaan sebagai keunikan dan keindahan. 




No comments:

Post a Comment