Tuesday, September 4, 2018

Semalam di Venetian Macao



Saya ingin membagi sedikit pengalama saat menginap semalam di hotel Venetian, Macao tahun 2011. Tentu saja itu kurang up to date untuk tahun 2018 ini. Tapi, karena itu merupakan salah satu kenangan yang sulit dilupakan, saya hanya ingin menceritakan pengalaman ini hanya sebagai hiburan saja.
  Bagi para pecinta traveling, hotel Venetian Macao tentu sudah tidak asing lagi. Hotel megah dengan berbagai fasilitas berkelas ini jelas akan membuat betah siapa saja. Begitupun dengan saya. Rasa penasaran dan ingin tahu seperti apa rasanya menginap disini membawa keluarga kami ke Macao. Rombongan kami terdiri dari saya, suami, kedua anak saya, kedua mertua saya, keluarga adik ipar saya dan kedua anaknya..

Kami bersepuluh tiba di Macao dengan menyeberang menggunakan ferry dari China. Memang jarak antara China dan Macao tidak terlalu jauh, hanya sekitar 145 Kilometer dari Guang Zhou. Karena Macao adalah daerah administrasi khusus Tiongkok, kami harus menunjukkan paspor pada saat menyeberang. Setiba di Macao, kami dijemput menggunakan shuttle bus gratis di terminus Maritimo. Begitu memasuki kawasan hotel, kami hampir tidak bisa berkedip melihat pemandangan yang begitu indah dan mewah.

Mulai masuk pintu lobby utama, kami disuguhi hiasan dan ornament khas Italia dengan warna kuning keemasan. Lambang hotel Venetian sendiri berdiri dengan megahnya di tengah-tengah. Lukisan khas Italia juga tersebar di langit-langit
Kami menyewa tiga kamar, satu kamar untuk tiap keluarga. Kamar saya memiliki dua tempat tidur besar, sehingga muat untuk empat
orang. Kamar kami dilengkapi dengan dua buah televisi, satu di bagian tengah antara kedua tempat tidur, satu lagi di bagian yang menjadi ruang tamu. Kamar mandi disini cukup luas, lengkap dengan bathub dan meja rias.  

Setelah melepas lelah, tentu saja kami tak mau melewatkan keindahan kota Macao yang dijuluki “Vegas of The East” ini. Tempat pertama yang kami datangi adalah City of Dreams, sebuah komplek resort yang memiliki tiga hotel berbintang lima bersama toko-toko dan mega kasino. Disana kami menyaksikan film 3D Dragons treasure di theatre “The Bubble,” yang merupakan salah satu theatre yang dimilikinya selain The Dancing Watter Theatre. Bentuk layar The Bubble bulat 360 derajat (Vquarium). Kami menonton dengan berdiri di tengah-tengah, film yang berlangsungpun terlihat lebih hidup karena layarnya yang bulat mengelilingi kami.
Dari situ, kami berjalan-jalan di Senado Square, landmark-nya kota Macao. Nama-nama jalan di Macao memang banyak menggunakan bahasa Portugis, dengan awalan Rua (jalan standar) dan Avenida (jalan yang memiliki dua jalur atau lebih). Macao sendiri dulunya adalah Negara jajahan Portugis dan baru diserahkan ke Tiongkok pada tahun 1999. Itulah sebabnya Macao memiliki kebudayaan yang tercampur antara Portugis dan China. Begitupun  bahasa yang digunakan. Tetapi karena penduduk Macao 90% berbahasa Canton, maka bahasa yang digunakan lebih banyak adalah bahasa Canton.


Senado Square adalah lapangan yang dirancang dengan gaya Portugis, lengkap dengan façade, gedung-gedung  yang warna dan modelnya klasik khas spanyol. Begitu juga dengan pavement (batu lantai) yang disusun dengan indah. Di lokasi ini terdapat Ruin of St Paul’s, reruntuhan gereja St Paul yang terkenal itu. Setelah puas berjalan-jalan, akhirnya kami kembali ke hotel.   

Hotel Venetian dibangun menyerupai kota Venesia, lengkap dengan kanal dan gondolanya. Kanal ini terletak di tengah area pusat perbelanjaan di dalam hotel dengan berhiaskan langit yang selalu cerah. Ya, langit yang terlihat adalah langit buatan yang dilukis dengan indah sehingga selalu terlihat cerah.
Selain pertokoan, di area ini juga terdapat food cort dengan beraneka ragam makanan dengan menu dalam dan luar negeri. Jadi, kita tinggal memilih makanan apa yang sesuai dengan selera kita. Bila rindu dengan masakan Indonesia, kita bisa mencoba masakan khas Malaysia yang rasanya hampir sama dengan masakan Indonesia.



Setelah puas menjelajah makanan dan pertokoan, kami bersiap untuk beristirahat. 

Eit, tunggu dulu. Rasanya tidak afdol kalau menginap di hotel ini tanpa mencoba peruntungan di kasino. Sayangnya anak-anak tidak diperbolehkan masuk. Terpaksa saya membawa anak-anak ke kamar untuk beristirahat sementara suami, adik ipar dan orang tuanya melanjutkan petualangan di kasino.

Pagi hari setelah breakfast, suami dan keluarganya kembali mengunjungi kasino. Saya dan anak-anak menikmati fasilitas lainnya di hotel ini, yaitu berenang. Tentu saja mereka menikmati kolam renangnya yang jernih, apalagi musim panas. Segar sekali rasanya. Dari sini saya membawa anak-anak ke Qube, area bermain khusus anak-anak. Berbagai permainan bisa mereka mainkan. Mulai dari permainan elektronik, ketangkasan dan keahlian juga ada. Pertama-tama, untuk memasuki area Qube, anak-anak diwajibkan memakai baju khusus. Yaitu sepasang baju dan celana training serta dilengkapi dengan kaos kaki.

Siangnya kami kembali menikmati suasana di kanal dan cuci mata di pertokoan dalam hotel. Kami juga berkeliling melihat beberapa bagian hotel yang belum sempat kami kunjungi dan nikmati. Di hotel sebesar ini, waktu memang terasa sangat singkat. Kami harus checkout hari ini dan melanjutkan perjalanan ke Hongkong.

Sehari di hotel Venetian Macao memang membuat kami lupa diri. Tempat tidur yang nyaman, fasilitas yang mewah, permainan yang menarik, acara-acara yang memuaskan, semua jadi satu. Tidak salah kami memilih menginap di hotel ini. Walaupun membawa keluarga besar yang memiliki minat dan hobby yang berbeda-beda,  kami bisa menikmatinya bersama-sama.

Sedikit tips sederhana dari saya bila ingin nyaman berlibur di tempat ini ialah:
Siapkan sambal. Keluarga saya adalah penggemar makanan pedas. Masakan di Macao dan di China bagi kami terasa kurang pedas. Jadi, untuk menambah selera makan sebaiknya kita membawa sambal atau bumbu rendang sendiri. Tapi bila Anda sudah terbiasa dengan makanan yang tidak pedas tentu sambal bukan masalah penting.

 Bawalah selalu minuman kemasan, lebih tepatnya botol minuman. Ini khusus buat kita yang tidak biasa ke toilet hanya dengan menggunakan tissue. Macao, seperti halnya Negara lain yang maju, mereka hanya menggunakan tissue untuk di toilet. Buat kita yang terbiasa menggunakan air, mungkin akan sedikit kesulitan untuk beradaptasi.

Bila tidak ingin menghabiskan uang di Kasino, bawalah secukupnya saja. Sebaiknya kalau sudah habis  jangan ditambah lagi, kecuali kalau memang datang hanya untuk menghabiskan uang.
Untuk menghemat biaya penginapan, bila kita datang lebih pagi dan hanya ingin menginap semalam saja, lebih baik check-in dilakukan sore hari. Barang bawaan bisa dititipkan sementara atau kalau hanya sedikit bisa kita bawa saja hingga tiba waktu check-in.

Mata uang Macao adalah MOP (Macanese Pataca), tapi di Macao kita bisa menggunakan Dollar Hongkong dan Chinesse Yuan dengan nilai tukar yang dianggap sama. Karena nilai tukar CNY (yuan) ke IDR lebih tinggi sekitar 500 Rupiah dibandingkan MOP, lebih baik bila memiliki mata uang Macao pergunakan saja MOP.

Hati-hati bila Anda seorang  perokok. Macao adalah Negara pusat perjudian di Asia, tapi pemerintah mengenakan denda 600 MOP (sekitar 997.000 rupiah) kepada para perokok. Dan bila menolak membayar dendanya tentu akan dipersulit bila akan kembali ke Macao.

Itulah pengalaman yang kami dapatkan dengan menginap selama semalam di hotel Venetian Macao. Cukup menyenangkan, bukan? Bahkan, kami yang datang dengan tiga generasi, bisa menikmati semua fasilitas yang ditawarkan bersama-sama. Rasanya kami ingin mengulanginya lagi. Kami berencana akan kembali berlibur di sana. Bagaimana dengan Anda?


Foto diambil dari Tripadvisor
foto diambil dari Wikipedia
foto diambil dari blog Booking.com

file diambil dari Venetian Macao



Friday, April 27, 2018

CINTA PERTAMA BIDADARI

"Kamu serius, Sha?" Jaka mendesaknya. Tapi tekad gadis itu sudah bulat. Shasha mengangguk perlahan. Baginya semua sudah tidak berarti. Pria itu banyak berubah sejak Komar kembali ke desanya. Bagi Shasha, Jaka sudah tidak berbeda dengan manusia lainnya. Penuh dengan khayalan untuk hidup senang dan bahagia tanpa mau berusaha. Jaka sudah berhenti pergi ke sawah, karena tahu Shasha akan menyiapkan makanan untuknya dengan sekali tepukan tangan. Pria itu juga tidak lagi mau berjualan, karena kendi tanah liat di samping ranjangnya selalu penuh dengan uang. Gubuk reot mereka kini sudah menjadi istana, begitu megah dan indah.

Shasha menarik napas panjang. Sebenarnya, ini adalah pilihan yang cukup berat baginya. Tapi, semakin lama Jaka menjadi semakin malas dan tidak menarik. Dia harus meninggalkan pemuda itu sebelum para Dewa di kahyangan memintanya bertanggung jawab. 
     
"Maafkan aku, Ka. Tugasku ke dunia bukan untuk membuat pemuda-pemuda rajin dan tampan sepertimu menjadi om-om gendut yang kerjanya hanya tidur-tiduran, tapi berharap tetap kaya raya. Apa kamu sudah menimbang berat badanmu sekarang?" Shasha menatap tajam pemuda di hadapannya.
   
"Sha, mari kita #negosiasi dulu, pikirkan baik-baik sebelum kau menyesal pergi dari istana ini," rengek Jaka.

"Ini istanamu, Ka, bukan milikku. Aku harus kembali ke istanaku sendiri dan mengembalikan semua yang kupinjam dari para Dewa untuk membantumu." Shasha mencoba melepaskan genggaman tangan pria itu. Hatinya sedih, matanya memerah dan bibirnya bergetar. Bagaimanapun, Jaka adalah cinta pertamanya, pemuda pertama yang pernah mengintipnya mandi.

"Baiklah, Sha, aku mengerti." Jaka menarik napas panjang. Wajahnya yang sendu perlahan-lahan kembali tersenyum. "Komar pernah bercerita tentang saudara-saudaramu yang lain, Dewi dan Seruni. Tolong kenalkan saja aku pada mereka," pinta Jaka memelas.

Tanpa sepatah kata, Shasha naik ke angkasa meninggalkan pemuda itu, Jaka Tarub, cinta pertama yang sudah mematahkan hatinya.