Friday, April 27, 2018

CINTA PERTAMA BIDADARI

"Kamu serius, Sha?" Jaka mendesaknya. Tapi tekad gadis itu sudah bulat. Shasha mengangguk perlahan. Baginya semua sudah tidak berarti. Pria itu banyak berubah sejak Komar kembali ke desanya. Bagi Shasha, Jaka sudah tidak berbeda dengan manusia lainnya. Penuh dengan khayalan untuk hidup senang dan bahagia tanpa mau berusaha. Jaka sudah berhenti pergi ke sawah, karena tahu Shasha akan menyiapkan makanan untuknya dengan sekali tepukan tangan. Pria itu juga tidak lagi mau berjualan, karena kendi tanah liat di samping ranjangnya selalu penuh dengan uang. Gubuk reot mereka kini sudah menjadi istana, begitu megah dan indah.

Shasha menarik napas panjang. Sebenarnya, ini adalah pilihan yang cukup berat baginya. Tapi, semakin lama Jaka menjadi semakin malas dan tidak menarik. Dia harus meninggalkan pemuda itu sebelum para Dewa di kahyangan memintanya bertanggung jawab. 
     
"Maafkan aku, Ka. Tugasku ke dunia bukan untuk membuat pemuda-pemuda rajin dan tampan sepertimu menjadi om-om gendut yang kerjanya hanya tidur-tiduran, tapi berharap tetap kaya raya. Apa kamu sudah menimbang berat badanmu sekarang?" Shasha menatap tajam pemuda di hadapannya.
   
"Sha, mari kita #negosiasi dulu, pikirkan baik-baik sebelum kau menyesal pergi dari istana ini," rengek Jaka.

"Ini istanamu, Ka, bukan milikku. Aku harus kembali ke istanaku sendiri dan mengembalikan semua yang kupinjam dari para Dewa untuk membantumu." Shasha mencoba melepaskan genggaman tangan pria itu. Hatinya sedih, matanya memerah dan bibirnya bergetar. Bagaimanapun, Jaka adalah cinta pertamanya, pemuda pertama yang pernah mengintipnya mandi.

"Baiklah, Sha, aku mengerti." Jaka menarik napas panjang. Wajahnya yang sendu perlahan-lahan kembali tersenyum. "Komar pernah bercerita tentang saudara-saudaramu yang lain, Dewi dan Seruni. Tolong kenalkan saja aku pada mereka," pinta Jaka memelas.

Tanpa sepatah kata, Shasha naik ke angkasa meninggalkan pemuda itu, Jaka Tarub, cinta pertama yang sudah mematahkan hatinya. 

Wednesday, November 29, 2017

Red Leaves - Novel Review

Sebenarnya buku ini sudah ada di lemari saya sejak lima tahun lalu. Selain "Parfume," saya sudah jarang baca novel-novel yang bercerita tentang pembunuhan lagi.

Red Leaves, tale of murder and suicides, novel yang bercerita tentang pembunuhan dan bunuh diri. (Sudah pasti nggak termasuk buku karangan Sidney Sheldon dan Harlequeen yang lebih ke romance). Tulisan Thomas H. Cook lebih ringan, mudah di mengerti dan punya ending twist yang hampir tidak terduga.
Novel ini membuat kita berpikir, seperti meyusun potongan-potongan jigsaw puzzle, menggunakan pov 1, tapi ada bebeapa bagian yang menggunakan pov 2. Sama sekali enggak bikin bigung.

Eric Moore, seorang pria yang bahagia dengan keluarga kecilnya yang sempurna, Memiliki istri yang cantik dan pengertian, juga anak lelaki yang baik dan penurut. Semua itu berubah bersamaan dengan hilangnya seorang gadis kecil bernama Amy Giordano. Sejak gadis itu menghilang, rentetan malapetaka merenggut orang-orang yang dicintainya satu persatu.  Berbagai kejadian mengungkapkan rahasia masa lalu yang semula tidak diketahui hingga mengacaukan kehidupannya. Eric harus berjuang membela tuduhan keji terhadap putranya yang baru berumur lima belas tahun sementara dia sendiri mulai tidak yakin akan apa yang terjadi.
Benarkah puteranya yang pendiam itu seorang pembunuh? apakah anak remaja pemalu itu mengidap paedofilia?

Baca buku ini bikin siapa aja yang baca jadi mikirin orang-orang yang dicintai. Apakah kita sudah cukup memperhatikan mereka?