Saturday, September 16, 2017

Suka Duka Penulis Pemula

Writing is Healing

Bagi saya, menulis adalah mengutarakan perasaan yang tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata ke dalam tulisan. 

Sejak kecil saya selalu menyimpan dalam hati rasa marah, dendam, kesal, sedih, kecewa, dan semua perasaan negatif yang membuat hidup serasa ingin diakhiri saja. Hidup saya cukup rumit dan ribet, hanya ada beberapa orang dari masa lalu yang tahu. Tapi sejak saya mulai menulis diari, saya merasa lebih bersemangat. Setiap hari selalu ada yang bisa ditulis. Mulai dari kata-kata frontal sampai berupa puisi dengan kata-kata kiasan. 
Penulis selalu punya banyak cara untuk mengutarakan maksud hatinya. Baik melalui puisi, cerpen, essai, artikel, novel, quotes, bahkan status. Dengan menuliskan apa yang ada dalam hati, kita juga lebih merasa lega dan terhindar dari penyakit jiwa.
Kenapa jadi penyakit jiwa?

Hampir setiap manusia memiliki kecenderungan ini. Mungkin awalnya adalah hati. Hati yang memendam perasaan, ditumpuk terus menerus, akhirnya jadi semacam bongkahan yang buat kita melakukan tindakan yang tidak biasa.

Contohnya?

Iri hati, sombong, pemarah, perasa, dan masih banyak hal yang tidak bisa dikeluarkan karena alasan demi menjaga perasaan orang lain.

Menulislah.

Kalau bingung mau nulis apa, perbanyaklah baca.

Kalau dulu saya masih bingung, belum tahu di mana passion saya dalam menulis karena menulis itu ada dua bagian. 

1. Fiksi, yang berasal dari imajinasi, membagikan manfaat dengan memberi contoh, menegur tanpa menghakimi, mendidik tanpa menggurui.

2. Non Fiksi. Berasal dari riset, dengan pengetahuan yang dibagikan menggunakan bahasa yang langsung dimengerti oleh pembaca.

Mana yang lebih bagus?

Semuanya sama aja, tergantung mana yang lebih kita kuasai. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuat sebuah artikel daging. Tapi saya membutuhkan waktu 2 jam untuk menulis satu bab cerita.

Lama juga ya?

Hehe... Laptop saya sekarang mudah hang, jadi yang 15 menit nunggu nyambung internet, sekitar 5 menit nunggu hurup A keluar kalau lagi hang 

Jadi kalau ada yang meremehkan kerjaan penulis, mulai sekarang coba belajar nulis yang benar. Bukan cuma pelajari KBBI aja, tapi juga bayangkan kalau tulisan kita dibaca orang. Apa tanggapan mereka? 

Nah, itu sekilas tentang nulis.

Mengenai pajak penulis yang di banrol 15%, saya juga sedih dengernya. Sampai Bang Tere Liye tarik semua karyanya dari Gramedia dan satu penerbit mayor lagi untuk bentuk protes.

Menulis, apalagi sebuah novel itu butuh proses yang panjaaaang banget. Saya lagi coba buat chicklit di wattpad dengan target satu bulan selesai. Hasilnya beberapa bab tulisan saya enggak ada rasanya. Itu baru nulisnya, lho.

Kalau dijadiin buku, berarti saya harus self edit lagi yang mungkin butuh waktu lebih lama. Saat kita self edit itu sering muncul ide-ide baru, kata-kata baru, dan lain-lain. Pernah dengar kan seorang penulis besar yang harus merombak 400 halaman bukunya karena baginya enggak bagus?

Proses berikutnya adalah mengirim ke redaksi. Ini juga prosesnya lama. Naskah yang mampir meja redaksi itu bukan cuma satu, tapi ratusan bahkan ribuan. Apalagi penerbit mayor seperti Gramedia, butuh waktu tahunan. Teman saya nunggu dua tahun baru bukunya bisa cetak.

Dari situ lanjut ke editor dan beberapa proses lainnya. Untuk editing, cover, dan lain-lain juga enggak mudah.

Setelah buku selesai dan dipajang di toko buku, barulah kita bisa dapat royalti.

Royalti penulis boleh dibilang kurang dari seperempat harga buku. Kalau buat penulis besar, yang bukunya best seller semua, berarti terjual lebih dari seribu eksemplar. Dipotong 15% masih ada nilainya, bagaimana dengan penulis pemula kayak saya?


Hanya satu yang buat saya tetap menulis. Passion.
Tulisan itu kadang lebih tajam dari pedang. Coba aja buka Facebook. Begitu banyak tulisan nyinyir, bernada permusuhan, provokator dan bully banyak beredar.

Akibatnya kita lihat bangsa ini yang tahun kemaren sudah tidak bersatu lagi. Mulai mementingkan golongan, ras, dan segala perbedaan yang dulunya tidak dipermasalahkan.
Kita merebut Indonesia dengan darah para pahlawan yang bersatu, tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan. Apa semudah itu kita hancurkan karena perbedaan?
Sekali lagi mari menulis sesuatu yang positif, yang membawa negeri tercinta ini maju, bersatu dan bahagia.
Salam literasi.



No comments:

Post a Comment