Friday, March 17, 2017

INDAHNYA NEGERIKU Bag 1 (Papua dan suku asmat)

Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin bercerita tentang salah satu suku unik di Indonesia yang pernah saya datangi, yaitu suku asmat. Tahun 1997 adalah tahun yang bersejarah buat saya. Sebagai anggota salah satu group band indhie adalah satu kebanggaan kalau sampai diundang ke daerah paling bergengsi di Indonesia, Timika, Papua. Kenapa saya bilang bergengsi? Ehm…..  memang itu pendapat saya sendiri, enggak tau pendapat teman-teman saya yang lain. Kami mendapat tugas selama 6 bulan untuk bernyanyi di Hotel Sheraton Timika, Papua. Awalnya saya ragu-ragu karena perjalanan ke Timika memakan waktu dua jam, sementara tempat yang pernah saya kunjungi di Indonesia tidak pernah lebih dari satu jam perjalanan. Ditambah perbedaan waktu yang juga cukup jauh, 2 jam, maka saya akan menempuh perjalanan selama 4 jam! (kira-kira begitu pikiran saya waktu itu ^_^ ).

Selain jauh, saya juga membayangkan suasana pedalaman Papua seperti yang sering terlihat di televisi dan majalah, terbelakang dan terisolir. Jadi begitu sampe bandara di Timika, perasaan itu tambah kuat (hehe… emang bener karena bandaranya kecil waktu itu)
Setelah kami ber-9 dijemput dan mulai memasuki jalan yang lebih mulus dan lebar disbanding jalan-jalan yang sudah kami lewati sebelumnya, baru kami menyadari kalau sedang berada disisi lain kota Timika. Jalanannya aja sudah bagus, apalagi messnya,, lebih lagi hotelnya. Waktu itu saya baru tahu kalau air keran di hotel aman diminum! (kok bisa….^_^)
Mess nya sendiri terdiri dari beberapa puluh kamar, kesannya seperti asrama atau kos-kosan, satu kamar bisa diisi 2 sampai 3 orang. Kami yang perempuan bertiga dapat satu kamar. Kamarnya kayak kamar hotel,, rapih, bersih, toilet duduk, shower air panas, ac, dan laundry. Buat saya pribadi merasa benar-benar dimanjakan. Gak tau karena saya yang baru pertama kali dapet mess yang seperti ini, atau memang messnya bagus banget. Bukan karena kami group band hingga mendapat fasilitas seperti ini, tapi semua yang bekerja di hotel Sheraton dan Freeport dan juga para pilot dan pramugari, mereka tinggal di mess ini. Baik yang WNI maupun yang WNA. 


Lanjut ya, sebagian dari mereka yang telah berkeluarga tinggal di kota Koala Kencana, Mimika, sebuah kota yang yang masih merupakan jobsite dari Freeport. Kota kecil ini mirip dengan model kota-kota di luar negeri. Air minum dari keran yang bisa langsung diminum, penataan kota yang bagus, dimana rumah sakit, kantor pemadam kebakaran, dan beberapa fasilitas umum yang sangat dibutuhkan berada di tempat-tempat strategis dan mudah dijangkau. Begitu juga rumah ibadah, semua ada dalam satu wilayah. Penduduk Koala Kencana yang kebanyakan pendatang juga hidup rukun dan damai. Dari Koala Kencana sendiri menuju Timika memerlukan waktu kurang dari satu jam.
Kami mendapat jatah makan 3x sehari. Pagi, siang dan malam. Sayangnya pagi restaurant hanya buka dari pukul 5 sampai pukul 7 saja. Jadi kami yang bangunnya selalu kesiangan memilih membeli mie saja satu dus hehe….  Kebetulan ada beberapa mesin air panas yang selalu menyala, dan kami bisa memakainya untuk menyeduh kopi, teh, dan memasak mie! ..
Kami berusaha untuk tidak banyak berbelanja karena harga barang-barang disini dua kali lipat harga di pulau jawa. Lagipula kami telah dimanjakan dengan fasilitas hotel termasuk bebas menggunakan ruangan fitness, sauna dan kolam renang. Selain itu kami juga diajak berkeliling ke kota Koala Kencana, Mimika dan Tembagapura. Benar-benar pengalaman yang sangat berkesan. Dari cuaca Timika yang panas, bahkan aspal pun terlihat berasap, ke Koala Kencana yang sejuk dan Tembagapura yang dingin.
Diminggu pertama kedatangan kami saya sebagai perwakilan dari group band “Millenium” diajak berkeliling ke desa-desa kecil suku Asmat, seperti Kokonao dan Mapuru Jaya, menggunakan helicopter sehingga hanya memuat 4 orang saja. Saya, General Manager Hotel Mr. Urs Klee dari Switzerland, Mr. Greg dari New Orleans dan Pilot berkebangsaan Austria Mark. Kebetulan teman-teman yang lain kurang lancar berbahasa Inggris, jadi tidak ada yang bersedia ikut dengan saya, hehe…. Padahal saya juga hanya modal nekat aja kok. Kapan lagi bisa berputar-putar diatas hamparan permadani hijau Papua yang sangaaaat indah. Dari jauh terlihat bukit-bukit hijau yang terkesan curam membentang. Saya seperti anak kecil yang mendapat hadiah balon begitu senangnya, sampai lupa kalau saya yang takut ketinggian ini berada ratusan kaki diatas permukaan tanah. Mark dengan jahilnya membawa kami naik tinggi dan menukik tajam. “oh My God!”  Antara takut tapi tetap takjub. Begitu hebatnya tangan Sang Pencipta yang sudah merancang ala mini tanpa cacat cela.
Tidak lama setelah kami akrab dengan penghuni mess yang lain kami bersembilan betul-betul diajak berkenalan dengan suku Asmat. Kami melihat sendiri mereka mengukir patung-patung Kamoro yang indah dan mengukirnya dari sebatang pohon. Sebelum sampai ke tempat mereka kami memang melewati beberapa patung Kamoro Raksasa.  Menurut adat suku Asmat, patung-patung tersebut sudah didoakan hingga arwah nenek moyang mereka ada didalamnya. Cukup bergidik bulu kuduk saya mendengar cerita suku asmat dahulu yang masih memiliki faham animisme dan sedikit kanibal. Untungnya peradaban sudah memasuki kebudayaan mereka sehingga kini mereka sudah lebih maju. Penduduk sini mencari nafkah dengan mnenjual kerajinan, memahat patung dan membuat aneka souvenir. Mereka juga bercerita bagaimana Freeport sering membagikan pakaian, makanan dan juga uang. Sayangnya hanya sedikit dari mereka yang fasih berbahasa Indonesia. Mereka menggunakan bahasa Papua untuk percakapan sehari-hari. Kami banyak membeli souvenir pada hari itu. Bahkan saya membeli sebuah badik dari tulang kasuari yang berhiaskan bulu-bulu kasuari. Sayang saya kehilangan barang-barang itu karena sering berpindah dari kota satu ke kota lainnya.


No comments:

Post a Comment